Seorang Penafsir dan Praktisi

Walaupun terdengar sederhana dan kelihatannya tidak bisa dibedakan satu sama lain, namun seorang penafsir dan praktisi memiliki perbedaan yang cukup signfikan.

Seorang penafsir/interpreter harus memiliki dasar-dasar teoritis. Seorang penafsir bukanlah seorang praktisi, sebab untuk menafsirkan sebuah persoalan harus menggunakan abstraksi dan logika, dengan didasarkan kepada konsep dan teori.

Mekanisme pikir seorang praktisi terlalu sederhana dan dangkal. Ia akan selalu menggunakan sebuah alat bantu atau biasa dipanggil dengan sebuah nama METODA yang pastinya telah diciptakan ada.

Seorang Penafsir dan Praktisi
So, seorang praktisi, dalam menyelesaikan suatu masalah, tidak mesti mengetahui darimanana dan bagaimana sebuah alat bantu atau metoda itu berasal.

Seorang praktisi tidak dapat memahami lebih jauh kaitan sebab-akibat dari suatu persoalan ke persoalan yang lainnya sebagai sebuah satu kesatuan yang utuh dan komprehensif.

Meskipun seorang praktisi memahami metoda dalam memecahkan sebuah masalahnya, ia tidak dapat melakukan prediksi ke depannya.

Dengan demikian, seorang peneliti bukanlah seorang praktisi. Ia adalah seorang penafsir, sebab hasil penelitiannya seharusnya mengandung penafsiran dari apa yang menjadi objek penelitinnya.

Seorang peneliti misalnya seorang lulusan S1, sedangkan praktisi adalah seorang lulusan D3. Kemudian lahirlah seorang akusisi data, yang nota bene adalah seorag praktisi.

Lalu muncullah yang namanya penafsir mimpi.. :) Nah, apakah kalo yang ini berarti lulusan S1? Jawab sendiri, ya! :)

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Seorang Penafsir dan Praktisi

0 comments:

Posting Komentar