Jadi, Pendapat Mana Yang Benar?

Saya pernah membaca sebuah kisah yang akan saya sampaikan dalam postingan berikut ini. Tapi saya lupa lagi, entah dari mana saya menemukan sumbernya.

Secara gitu..., so mohon maaf kepada sumber jika saya tidak bisa menyebutkan referensinya, ya.

Oke lanjut, begini ceritanya.

Suatu hari ada seekor keledai, orang tua, dan anak sedang melakukan perjalanan di padang pasir yang tandus dan kering.

Saking keringnya orang tua merasa iba jika anaknya yang mesti berjalan. Lalu menyuruh si anak menunggang keledai tersebut, sementra orang tua berjalan sambil menuntun keledai.

Suatu hari perjalanan mereka melewati sebuah perkampungan kecil. Masyarakat yang ada di perkampungan itu melihat pemandangan perjalanan si orang tua, anak dan keledai.

Menyaksikan seorang anak tengah menunggang keledai, masyarakat itu pun banyak yang menyayangkan, gumam mereka, "waduh, enak bener tuh anak, masa orang tua harus berjalan, sementara anaknya enak-enakan duduk di atas keledai"

Tak sengaja ucapan masyarakat itu terdengar oleh si anak dan orang tua. Lalu si anak dan si orangtua pun berdiskusi.

"Ya sudah Pak, dari pada jadi fitnah, sekarang bapak saja yang naik keledai, sementara biar saya yang menuntun keledainya dan berjalan", begitu usul si anak.

Keldai orang tua dan anak
Pendapat si anak pun diiyakan oleh orang tuanya. Akhirnya, si anak dan si bapak melanjutkan perjalanan dengan posisi orang tua yang menunggang keledai, sedangkan si anak berjalan sambil menuntun keledai.

Kemudian, di tengah perjalanan mereka menemui lagi sebuah perkampungan kecil. Masyarakat perkampungan yang melihat hal itu berbisik-bisik hingga bisikan mereka terdengar kepada si anak dan si orang tua.

"Tega nian ini orang tua, enak-enakkan duduk di atas keledai, sementara anaknya harus berjalan menuntun keledai", begitu bisik masyarakat.

Mendengar bisikan itu, akhirnya si anak dan si orang tua berdiskusi lagi. "Ya sudah nak, daripada jadi omongan nggak karuan, kita sama-sama menunggang keledai ini saja, tak usahlah ada yang menuntun keledainya", begitu pendapat orang tua.

Akhrnya merekapun meneruskan perjalanan dengan keduanya menunggang keledai.

Dan lagi-lagi mereka melewati sebuah perkampungan lagi.

Melihat hal itu, masyarakat pada bengong, mereka berpendapat,"tega-teganya ini anak dan orang tua. Masa keledai ditunggangi berdua, sementara mereka dengan enaknya duduk di atasnya. Ga ada rasa kasihan pada keledainya, apa!"

"Hadeuh... ada benarnya juga ya pendapat masyarakat itu?", lagi-lagi diskusi si anak dan si bapak.

Akhirnya, dalam solusi pamungkas mereka berpendapat,"ya sudah pak, daripada jadi cercaan masyakat, sebaiknya kita berdua berjalan menuntun keledai, tanpa harus ada yang menunggangi keledai kita".

Dan mereka pun meneruskan perjalanan, dengan keduanya berjalan menuntun keledai alias tidak menungganginya.

Sampai suatu saat, kali ini mereka melewati sekumpulan orang yang sedang bercengkrama di pinggiran jalan.

Masyarakat yang melihat tingkah laku anak dan orang tua ini banyak yang berujar sambil setengah tertawa.

"Betapa bodohnya mereka, kenapa juga mereka berjalan, sementara keledainya tidak mereka manfaatkan, ya? Mana cuaca lagi terik-teriknya, mereka hanya menuntun keledai itu..haha".

:) Demikian cerita keledai, orang tua, dan anak. Semoga Anda bisa menarik benang merahnya dari cerita tersebut.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Jadi, Pendapat Mana Yang Benar?

0 comments:

Posting Komentar