Pasti Kaya dengan Pas

Inilah ini yang selalu dilupakan oleh kebanyakan orang. “Kaya dengan merasa pas (cukup)”. Padahal arti kaya yang sebenarnya yaitu saat semua keinginan pas terpenuhi. Pas saat kita butuh uang, uang itu ada, pas saat kita butuh pacar, pacar itu ada, pas kita pengen rumah, rumah menjelma. Etc etc.

Terinspirasi oleh pernyataan di atas, saya ingin menuliskan sejumlah perasaan kaya saya, perasaan pas saya, yang walaupun peristiwa pas itu mungkin bagi anda kecil artinya, tetapi bagi saya perasaan pas ini tetap memiliki makna kaya.

Suatu hari, saat saya membuatkan souvenir untuk pernikahan adik ipar, saya selalu memperoleh kondisi yang pas. Saat membeli plastik untuk souvenir yang membutuhkan jumlah 200 lembar, setelah saya hitung ternyata plastic tersebut per paknya cuma berisi 90 lembar (saat itu saya tanggung Cuma beli 2 pak). Berarti total ternyata hanya ada 180 lembar. Padahal si penjual plastic bilang 1 paknya berisi 100 lembar.

Sempet mau timbul perasaan dongkol. Maklum sebagai manusia, siapa sih yang mau dibohongi pedagang? Tapi perasaan iklas saya mengatakan, “ah tidak mengapa, jika kurang tinggal beli saja lagi 1 pak, la wong Cuma 5000 perak per paknya,apa susahnya. Hitung-hitung beramal , dengan membeli lagi plastiknya maka plastik si penjual menjadi laku, dengan begitu beliau bisa menghidupi keluarganya. Waahh.. apalagi beliau terlihat sudah agak tuaan dikit .” Si penjual mungkin saja tidak tahu bahwa per paknya isi 90 lembar. Secara gitu, tugas dia kan Cuma menjual.

Pasti Kaya dengan Pas
Sambil berpikir demikian, Saya Cuma melanjutkan pekerjaan memasukkan barang souvenir ke dalam kantong plastik. Hal itu saya lakukan karena otak kanan saya mengatakan, “lakukan saja, jangan berpikir menggerutu, jangan banyak berpikir menyesali kondisi demikian, jangan berpikir rugi. Lakukan saja”, sekali lagi tegas pikiran saya.

Tak disangka, mungkin karena keikhlasan saya, Sungguh AJAIB! si plastic itu ternyata pas jumlahnya menjadi 200 buah. Jumlah souvenir itu pas dengan jumlah kantong plastiknya. Saya tidak mau menganalisis apakah suvenirnya yang kurang dari 200 atau terjadi kesalahan dalam menghitung plastic. Tapi yang pasti fenomena kecil ini justru membuat saya terhenyak dan tanpa pikir panjang langsung mengucapkan syukur Alhamdulillah.

Nah, kejadian tersebut membuat saya tersadar, saat saya selalu memikirkan hal yang besar-besar (dan padahal nyatanya Allah mengabulkan keinginan besar tersebut), hal yang sepele kita lupakan. Terkadang kita tidak mau mencermati.

Yang pasti, sadar atau tidak, anda pastinya juga sering mengalami hal serupa tapi tak sama seperti saya.

Oya, saya jadi teringat kembali pada kejadian membuat souvenir pernikahan. Satu lagi nih ceritanya, ya!

Saat itu saya membeli kertas duplek selembar berukuran besar. Saya membutuhkan ukuran kertas duplek yang kecil-kecil, sehingga kertas duplek akan saya potong-potong menjadi berukuran masing-masing 6,5 cm x 4 cm sebanyak 100 buah. Dan ini yang paling membuat saya takjub, si duplek itu ternyata pas ukurannya untuk dipotong menjadi 65 cm x 40 cm. Nah bagian yang 65 cm yang pas, sedangkan ukuran yang 40 cmnya memang ada lebihnya, karena ukuran duplek lebih kurang (kalau tidakk salah) 100 cm x 65 cm. Jadi tidak ada bagian yang mubazir, soalnya sisanya tidak ada potongan-potongan kecil.

Mundur sedikit ke belakang. Kenapa saya membutuhkan duplek sebanyak 100 buah potongan, kenapa bukannya 200 buah seperti jumlah plastic yang saya sebutkan di atas?

Nah ini dia, yang ini pun membuat saya heran 7 keliling. Jumlah kekurangan yang 100 buahnya ternyata saya memiliki kertas duplek bekas, yang saya gunakan untuk membuat souvenir pernikahan juga. Tapi itu bekas dulu, yaa sekitar 7 tahunan yang lalu lah. Lagi lagi ternyata bekas duplek lama itu jumlahnya ada 100 biji (sama dengan jumlah yang saya butuhkan). Padahal saya tidak berkompromi lebih dahulu dengan masa lalu, alias saya tidak menyuruh kepada sisa duplek masa lalu agar berjumlah 100 buah. 

Subhanallah, sungguh fenomena ajaib. Semuanya berjalan dengan penuh keikhlasan, dan do it. Saya tidak banyak berpikir macam-macam saat mau membuat souvenir pernikahan untuk pernikahan adik saya tercinta. Pokoknya do it saja, saya tidak banyak melakukan analisis buruknya bagaimana, “bagaimana kalau nanti kurang ini? Bagaimana nanti kalau kurang itu? Wah nanti dupleknya susah dimana ya mendapatkannya? Wah kalu begitu nanti rugi, dong!”, Begitulah, saya membuang pikiran-pikiran seperti itu. Pokoknya jalankan saja, nanti solusi sering tiba-tiba muncul di tengah perjalanan kita menyelesaikan proyek. Trust it!

Dengan kejadian itu, kita (terutama saya) seharusnya sadar, bahwa pikiran analisis jelek untuk sebuah proyek yang akan dilakukan bisa membuat pekerjaan kita tidak jadi-jadi terus. Pokoknya do it aza. Lakukan, jangan seperti kebanyakan teman saya mengatakan, “pikirkan jeleknya dulu”.

Lalu apa hubungannya dengan perasaan pas (kaya), perasaan syukur (positif thinking), dan do it (action).

Jelas, contoh di atas membuktikan keterpaduan kaitan ketiga komponen perasaan pas, syukur dan action.

Perasaan pas (kaya) akan tercipta saat hati kita ikhlas penuh syukur yang terus menerus. Pikiran action alias do it saja membantu kedua komponen perasaan pas dan syukur. Bahkan bisa saja sebaliknya, pikiran untuk selalu action terus ini bisa jadi hadir jika kita senantiasa merasa pas (kaya) dan ikhlas.

Atau mungkin juga seperti lingkran setan yang saling terkait tidak diketahui ujung pangkalnya, yaitu sepertihalnya pada analogi anekdot telur dan ayam. Apakah telur dulu atau ayam dulu?

Saat ini pun saya sedang membuat toko online. Saya ingin menerapkan teknik di atas. Do it saja, belum ada produk kumpul-kumpul dulu aza, barangkali baru ada satu atau dua produk, saya post aza dulu produk yang ada. Atau nanti bisa produk dropshipingan.

Dan modal untuk beli domain hosting pun belum ada, saya bikin saja pakai blogspot. Kenapa tidak? Yang penting do it saja dulu. Ilmu, perbaikan sana sini, nanti juga pasti akan muncul saat saya melakukan pekerjaan proyek ini.

Demikian, semoga share saya yang alakadarnya di atas, bermanfaat.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Pasti Kaya dengan Pas

0 comments:

Posting Komentar